Tips Komputer Akan slalu Update Stiap Saat

Adnda bisa mendownload sepuanya

Berbagai aplikasi android

Adnda bisa mendownload sepuanya

Sofware-sofware PC/laptop

Adnda bisa mendownload sepuanya

Kumpulan tips trick android

Adnda bisa mendownload sepuanya

Kumpulan game pc/laptop

Adnda bisa mendownload sepuanya

Showing posts with label Big movies. Show all posts
Showing posts with label Big movies. Show all posts

Saturday, 11 April 2015

Tokyo Tribe (2014)


Review:

Cerita untuk film ini berlatar suatu saat di masa depan. Tokyo diperintah oleh suku-suku di daerah. Perang habis-habisan kemudian terjadi antara suku-suku di Tokyo.




Download Single Link:

UC: https://userscloud.com/af3qccjjxu9f
TF: http://www.tusfiles.net/t6frnbo0xuny
UF: http://sht.io/nht
UP: http://up.ht/1BIkEUq
SF: http://sh.st/f3LtX


Subtitle: br-toktribe-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: henryjovinski



Maleficent (2014) BluRay + Subtitle Indonesia



Review:

Lupakan sejenak keberadaan Angelina Jolie di posisi terdepan, pertanyaan pertama yang hadir dari Maleficent adalah apa yang ia ingin gambarkan mengingat statusnya sendiri yang merupakan seorang villain? Kejahatan? Ternyata tidak, ini bukan film dimana penjahat murni hanya menjalankan tugasnya sebagai penjahat di panggung utama, karena secara mengejutkan ia punya kehangatan sederhana sebuah cinta pada dongeng yang telah mendapat sedikit perputaran kecil itu. Maleficent, a good enough brave and modern fairytale reimagining.

Ketika ia masih muda Maleficent (Isobelle Molloy) memiliki sebuah mimpi untuk menyatukan kesenjangan antara dua kerajaan besar yang terpisahkan oleh sebuah lembah, kerajaan berisikan para manusia dan kerajaan tempat ia tinggal, The Moors, alam para peri. Tekad tersebut semakin besar ketika Maleficent bertemu dengan manusia yang tersesat di hutan mereka, Stefan (Michael Higgins), anak Raja Henry yang langsung menghadirkan rasa cinta di hati Maleficent, bahkan telah bergerak serius dengan memberikan sebuah ciuman yang ia sebut “ciuman cinta sejati.”

Namun kisah mereka kandas setelah Stefan menghilang dalam jangka waktu yang sangat lama. Stefan (Sharlto Copley) kembali datang ke The Moors ketika ia telah dewasa, namun sayangnya dengan membawa niat berbeda, yang kemudian membuat Maleficent (Angelina Jolie) murka. Rasa patah hati itu berujung niat balas dendam, bersama dengan orang kepercayaannya, Diaval (Sam Riley), Maleficent mendatangi kerajaan para manusia dan kemudian memberikan kutukan pada sasaran utamanya, putri Stefan.

Maleficent menyihir Princess Aurora (Elle Fanning) akan jatuh kedalam sebuah tidur panjang menjelang ulang tahunnya yang ke 16, dan hanya dapat bangun setelah mendapatkan sebuah ciuman cinta sejati, hal yang dipercaya oleh Maleficent tidak pernah eksis dan turut menciptakan rasa ragu didalam dirinya.

Naskah merupakan sumber utama yang menyebabkan daur ulang dengan sedikit sentuhan berbeda dari kisah Sleeping Beauty yang terkenal itu gagal mencapai potensi yang ia punya. Ya, sesungguhnya jika berbicara potensi Maleficent berada pada level yang cukup besar terlepas dari hadirnya Angelina Jolie sebagai “power” di sisi lain, bagaimana ketika semua alur yang mungkin telah menjadi hafalan bagi mayoritas penontonnya dari kutukan hingga ciuman sejati itu coba untuk sedikit dilukai dengan memutar posisi dari para karakter, menempatkan si baik yang kini harus puas hanya memegang peran pendukung dengan segala keterbatasan gerak dan kontribusi, dan kemudian menaruh si jahat dengan peran fokus utama sebagai pusat dan juga subjek yang menggerakkan cerita.

Menarik, terlebih dengan kehadiran narator lewat suara Janet McTeer, Robert Stromberg berhasil menciptakan impresi awal yang memikat. Pergantian point of view itu tidak mengganggu, Mistress of All Evil itu langsung klik pada posisinya dan dari sana sosok yang pernah terlibat pada Avatar, Alice in Wonderland, dan Oz the Great and Powerful ini mulai merajut cerita yang ditulis ulang oleh Linda Woolverton kedalam sebuah dunia yang bukan hanya mampu membawa kembali fantasi itu namun juga memberikan posisi yang sangat nyaman bagi penontonnya.

Mengejutkan, Maleficent mampu menghadirkan alur cerita yang terus mengalir dengan baik meskipun di lain sisi tampak sangat jelas ia menunggu datangnya babak akhir dengan berjalan mondar-mandir seolah tanpa tujuan yang kuat. Hal tadi setidaknya mampu membuang kesempatan bagi hal-hal minus minor lain seperti dinamika cerita yang liar dan sering terputus-putus serta pengembangan karakter yang gelap itu untuk menghancurkan perhatian penontonnya pada point utama yang ia usung, hati nurani.

Ya, ini bukan sebatas pertarungan antara si jahat dan si baik yang ditempatkan hanya sebagai cover, Robert Stromberg merubahnya menjadi sedikit lebih dewasa dengan sentuhan feminism yang kuat, menempatkan kompleksitas emosi terhadap masalah yang dimiliki oleh karakter Maleficent untuk menarik simpati penontonnya. Maleficent seperti gabungan antara Despicable Me dengan Frozen, punya unsur hitam pada karakter lengkap dengan misteri dangkal, berupaya untuk memanusiakan karakter jahat sembari mencoba menggambarkan makna cinta dari sudut yang berbeda. Sangat mudah untuk masuk dan terlibat dalam cerita, penyebabnya adalah Robert Stromberg paham bagaimana menjadikan kisah ini terus tampil mengkilap, terus membuat penontonnya terjaga saat mengikuti plot cerewet yang terlalu sibuk untuk mengemis atensi, dari tingkah komikal konyol tiga peri (Imelda Staunton, Juno Temple, Lesley Manville) yang menjadi versi imut dari Three Stooges dengan kontribusi tidak kuat, hingga aksi bermain-main yang sebenarnya disengaja untuk mempertebal gejolak emosi Maleficent tapi sayangnya tidak semua terasa penting.

Ya, mixed memang, ia punya inti yang kuat meskipun predictable, tapi cara Linda Woolverton memanjangkan cerita untuk memperdalam senjata utamanya itu yang terasa lemah, memasukkan nafas modern kedalam cerita asli terasa kurang klik di beberapa bagian. Ada pula kesan ambigu yang kuat disini, pergeseran pada motif utama yang seperti dibiarkan bergerak bebas oleh Robert Stromberg, berubah secara berkala yang sayangnya tidak dibantu dengan kontrol yang baik pada kombinasi kecepatan gerak dan juga naskah, penceritaan sering kali terasa kurang intens yang menyebabkan resolusi terasa canggung. Hal yang sama juga terjadi pada adegan aksi yang tidak semua mampu menjadi bumbu yang mengesankan bagi cerita. So, what makes it work? Angelina Jolie.

Terlepas dari naik dan turunnya performa dari karakter miliknya sepanjang cerita, dengan tulang pipi prosthetics yang terinspirasi dari cover album Lady Gaga, mata tajam, dan tanduk di atas kepala Angelina Jolie mampu menjalankan tugasnya sebagai tumpuan utama untuk terus membawa maju cerita, ia mampu menghadirkan kompleksitas dari perasaan seorang wanita yang ditemani dengan kedalaman emosi yang mumpuni, hal yang mampu menarik simpati penonton pada konflik internal yang ia punya. Kinerja yang baik mengingat Jolie hanya sedikit dibantu oleh Elle Fanning dan Sam Riley, dan harus kehilangan Sharlto Copley yang tidak punya kesempatan lebih untuk menjalankan tugasnya sebagai “real enemy.”

Overall, Maleficent adalah film yang cukup memuaskan. Punya keseimbangan dalam plus dan minus, Maleficent sangat bergantung pada interpretasi penonton terhadap cerita yang telah sedikit diputar ini. Ini bukan tentang penjahat melakukan tugasnya sebagai penjahat, Maleficent mencoba membawa dongeng klasik itu menjadi sebuah pertarungan internal yang sedikit dewasa dan sedikit kompleks dengan bertumpu sepenuhnya pada sisi emosional, ia kemas dengan sedikit bersenang-senang bersama elemen teknis yang cukup terampil dan gerak mondar-mandir yang canggung. Petualangan cukup menyenangkan yang gagal meraih potensi penuh pesona yang ia punya.







Download Single Link:
UF: http://sht.io/odb
UP: http://uppit.com/eoe0zfap52us/Maleficent.2014.BluRay.Ryemovies.mp4

Subtitle: br-mlficent-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki


The Flash [Update



Review:

Karakter Superhero DC Comics ‘The Flash’ akhirnya diangkat lagi menjadi serial televisi dan ditayangkan oleh stasiun televisi CW dan dalam rangka mempromosikan Tv seri-nya, episode pertamanya pun di rilis yang akan di lanjut serial resminya nanti bulan oktober 2014.

The Flash sendiri dikembangkan oleh penulis naskah/produser Greg Berlanti, Andrew Kreisberg dan Geoff Johns. The Flash dibuat berdasarkan karakter Flash (Barry Allen) dari ‘DC Comics’,  The Flash versi serial televisi ini mengisahkan sejarah awal ‘Flash‘ saat seorang ilmuan bernama Barry Allen yang setelah mengalami kecelakaan dalam penelitiannya, tiba-tiba memiliki kekuatan super-cepat yang merubahnya menjadi manusia tercepat di dunia, The Flash.

The Flash dibuat untuk menjadi cerita lain dari Arrow, yang berada di dunia yang sama. Episode pertama “The Flash” dibuat oleh Greg Berlanti dan Andrew Kreisberg bersama Geoff John, yang saat ini sedang dalam produksi “Arrow”, dengan David Nutter bertindak sebagai sutradara.







Download Single Link:

TF: MP4 | AVI


Subtitle: fix-tf-s01e01.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: josephermlase



In Time (2011) BluRay + Subtitle Indonesia



Review:

Setelah kesuksesannya dalam memerankan karakter Sean Parker dalam The Social Network (2010), Justin Timberlake muncul sebagai salah satu aktor yang paling banyak dibicarakan di Hollywood. The Social Network memang bukanlah film pertama dari aktor yang juga seorang penyanyi ini. Namun, baru lewat The Social Network kemampuan akting Timberlake mampu dilirik dan dianggap serius oleh banyak kritikus film dunia. Pertanyaan berikutnya jelas, apakah kemampuan akting Timberlake dalam The Social Network adalah murni merupakan bakat akting Timberlake yang semakin terasah atau hanya karena Timberlake sedang beruntung berada di bawah arahan seorang sutradara bertangan dingin seperti David Fincher.

Dua film komedi, Bad Teacher dan Friends with Benefits, yang dirilis lebih awal jelas tidak akan mampu dijadikan tolak ukur mendalam dari kemampuan akting Timberlake. Pembuktian tersebut datang dari In Time, film science fiction yang dibintangi Timberlake bersama Amanda Seyfried dengan arahan sutradara Andrew Niccol (Lord of War, 2005). Seperti halnya film-film yang ditulis dan diarahkan oleh Niccol sebelumnya, In Time juga merupakan sebuah metafora mengenai pandangan Niccol terhadap kondisi politik dan sosial dunia saat ini yang ia bungkus dengan penyajian jalan cerita yang berbau fiksi ilmiah.

Dalam In Time, dunia sedang berada pada tahun 2161, ketika ilmu pengetahuan berhasil mengubah susunan genetika tubuh manusia dan membuat mereka berhenti menua pada usia 25 tahun. Karena jumlah populasi manusia yang berlebihan, ditemukanlah sebuah cara untuk mengurangi kepadatan penduduk dengan cara yang alami: menjadikan usia sebagai mata uang yang berlaku.

Ketika seseorang menginjak usia 25 tahun, mereka harus bekerja untuk mendapatkan perpanjangan masa usia hidup. Jika tidak, setelah masa setahun semenjak mereka berusia 25 tahun, manusia tersebut akan meninggal dengan sendirinya.

Will Sallas (Justin Timberlake) adalah seorang pekerja yang berusia 28 tahun dan tinggal bersama ibunya, Rachel (Olivia Wilde), yang telah berusia 50 tahun. Suatu hari, Will menyelamatkan seorang milyuner dengan masa hidup yang masih tersisa lebih dari satu abad, Henry Hamilton (Matt Bomer), dari kejaran sekelompok orang yang berniat mencuri usia Henry.

Sebagai rasa terima kasih, sekaligus karena merasa bahwa ia telah hidup dalam jangka waktu yang cukup, Henry memberikan seluruh sisa hidup yang ia miliki pada Will. Kematian Henry kemudian menjadi sensasi tersendiri bagi beberapa pihak keamanan yang percaya bahwa Will mencuri seluruh usia Henry dan menyebabkan kematiannya. Melawan, Will akhirnya berlari dari kejaran dari banyak pihak yang menginginkan kehidupan yang saat ini ia pegang.

Jangan tertipu dengan sinopsis yang baru saja Anda baca. In Time mengandung lebih banyak cabang cerita di dalam skenario yang ditampilkannya. Berbagai metafora sosial mengenai jurang pemisah yang terbentuk antara kelompok kaya dan kelompok miskin, bagaimana orang yang berkuasa (baca: pemerintah) memperlakukan rakyatnya secara tidak adil, bagaimana kerasnya kehidupan bagi mereka yang hidup dengan keseharian yang pas-pasan hingga bagaimana banyak orang di dunia lupa akan arti kemanusiaan hanya karena materi ditampilkan secara lugas oleh Niccol dalam In Time.

Niccol menterjemahkan istilah time is money secara literal dalam film ini. Waktu digunakan sebagai mata uang pemersatu dunia. Ide yang sangat brilian… namun sayangnya memiliki banyak benturan yang jarang dapat dihindari oleh Niccol yang kemudian membuat beberapa bagian In Time terasa kurang mampu bekerja dengan baik. Dengan premis yang menjanjikan, Niccol ternyata menghadirkan In Time dengan cara penceritaan yang standar: semua hal yang Anda bayangkan akan terjadi dalam sebuah film yang berkisah mengenai perjuangan satu karakter untuk menumpas ketidakadilan yang ia alami dalam hidup – sekaligus membantu kehidupan banyak orang lainnya – terdapat dalam jalan cerita In Time.

Bayangkan kisah Robin Hood. Dan padukan dengan kisah Bonnie & Clyde yang mulai berjalan seiring dengan terciptanya sebuah chemistry antara karakter Will dengan karakter Sylvia Weiss yang diperankan oleh Seyfried. Satu-satunya yang menjadi pembeda dalam kisah ini adalah latar belakang waktu dimana kisah ini terjadi dan penggantian uang menjadi waktu yang berhasil menghadirkan kesan futuristik pada film ini.

Terlepas dari sisi-sisi kelemahan tersebut, harus diakui Niccol masih memiliki kekuatan yang mumpuni dalam mengarahkan tampilan visual dan cerita yang ingin ia sampaikan dalam filmnya. Tentu, In Time terkadang memiliki dialog yang terkadang terlalu preachy, terkadang terlalu cheesy dan terkadang terlalu corny. Dan semenjak pertengahan film, jalan cerita In Time juga seperti berhenti berkembang dan terus menerus mengulang jalan cerita yang telah dihadirkan di awal kisah.

Pun begitu, Niccol mampu menghadirkannya dengan tata produksi dan intensitas cerita yang cukuo mampu terjaga dengan meyakinkan. Ini yang membuat 115 menit dari durasi In Time masih mampu untuk hadir begitu memikat. Material yang disediakan Niccol, harus diakui, tidak menyediakan ruang yang cukup bagi para aktornya untuk mampu menampilkan penampilan akting dramatis mereka dengan cukup. Pun begitu, Timberlake, Seyfried dan Cillian Murphy berhasil memberikan kemampuan terbaik mereka untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan. Chemistry yang tercipta antara Timberlake dan Seyfried juga berjalan begitu erat.

Para aktor dan aktris pendukung, seperti Wilde, Bomer, Alex Pettyfer dan Vincent Kartheiser juga tampil dalam penampilan yang tidak mengecewakan, terlepas dari minimnya waktu yang diberikan pada karakter yang mereka perankan untuk berkembang di dalam jalan cerita. Walau kadang terasa hadir dengan jalan cerita yang terlalu kaku dan monoton serta dengan deretan dialog yang kadang terdengar begitu konyol, In Time untungnya masih mampu tampil dengan intensitas cerita yang begitu terjaga dan yang paling utama, dengan dukungan akting kelas atas para pengisi departemen akting film ini.

Jujur saja, premis film ini yang mengisahkan bagaimana waktu menjadi barang paling berharga dan menjadi sumber kekuatan menggantikan uang adalah premis yang sangat menarik. Dan meskipun Andrew Niccol kemudian gagal untuk mengembangkan premis tersebut menjadi sebuah jalan cerita yang berkelas, In Time harus diakui akan masih mampu menghibur banyak orang yang menyaksikannya.





Download Single Link:

UC: https://userscloud.com/ycgffy3q3w5j
UF: http://sht.io/rc9


Subtitle: br-in-time-2011.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: xtalplanet

Dredd (2012) BluRay + Subtitle Indonesia



Review:

Dredd bukanlah film pertama yang mengadaptasi kisah dari salah satu karakter komik buatan Inggris yang paling popular semenjak mulai diperkenalkan pada tahun 1977 ini. Hollywood sebelumnya pernah merilis Judge Dredd pada tahun 1995 dengan Sylvester Stallone, Diane Lane dan Max von Sydow sebagai bintang utamanya – walau film tersebut kemudian banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia. Proses produksi versi terbaru dari Dredd sendiri – yang bukan merupakan versi remake dari film pertama – telah dimulai semenjak tahun 2006 ketika naskah ceritanya mulai ditulis oleh Alex Garland (Never Let Me Go, 2010). Namun, proses produksi sebenarnya dari Dredd sendiri baru dimulai pada tahun 2010 ketika Pete Travis (Vantage Point, 2008) diumumkan akan duduk di kursi penyutradaraan hingga akhirnya proses pengambilan gambar dimulai pada akhir tahun itu juga.

Jalan cerita Dredd sendiri berlatar belakang lokasi di Amerika Serikat pada masa yang akan datang. Amerika Serikat pada saat itu dikenal sebagai Cursed Earth yang disebabkan oleh kondisi kacaunya akibat efek radiasi yang begitu kuat. Di pesisir timur dari wilayah Amerika Utara terletak Mega-City One, sebuah kota metropolis dengan jumlah penduduk yang mencapai hampir 800 juta orang. Kondisi di Mega-City One sendiri tidak lebih baik dari kebanyakan wilayah di Amerika Serikat lainnya: sebanyak 17 ribu kejahatan dilaporkan setiap harinya dan obat-obatan terlarang dapat beredar dengan bebas – salah satu yang populer adalah “Slo-Mo” yang membuat persepsi penggunanya berjalan lebih lamban dari kondisi normal.

Harapan penegakan hukum satu-satunya berada pada petugas penegak hukum yang dikenal dengan sebutan Judge. Dalam setiap aksinya, setiap Judge dapat berlaku sebagai hakim, juri maupun pengeksekusi pelaku tindak kejahatan. Diantara para Judge lainnya, Judge Dredd (Karl Urban) adalah salah satu Judge yang paling dikenal akibat kemampuannya yang handal dalam menangani setiap masalah kejahatan. Namun, Judge Dredd akan segera menghadapi tantangan terberatnya.

Ketika ditugaskan untuk mengawasi seorang calon Judge baru, Judge Anderson (Olivia Thirlby), Judge Dredd kemudian terjebak dalam gedung Peach Trees yang memiliki ketinggian 200 lantai. Di gedung tersebut, Dredd harus menghadapi seorang produsen dan pengedar obat-obatan terlarang, Madeline Madrigal atau Ma-Ma (Lena Headey), yang menguasai gedung tersebut. Merasa kehadiran Judge Dredd dan Judge Anderson sebagai sebuah ancaman, Ma-Ma lalu menutup gedung tersebut dan menugaskan kaki tangannya yang berada di setiap lantai untuk melenyapkan nyawa kedua Judge tersebut.

Tantangan terbesar dari mengarahkan sebuah jalan cerita yang pada dasarnya mengisahkan mengenai perjalanan dua karakter utamanya menembus pertahanan sebuah gembong kejahatan yang berada di sebuah gedung untuk menuju lantai paling atas dan menghadapi sang pemimpin utama jelas adalah untuk tidak membuat perjalanan kedua karakter terkesan sebagai deretan adegan yang terus berulang-ulang di setiap tingkatannya. Untungnya, naskah cerita arahan Alex Garland mampu memberikan kualitas tersebut.

Daripada hanya berfokus pada perjalanan kedua karakter utamanya dalam menghadapi deretan penjahat yang siap untuk membunuh mereka, Garland kemudian mengembangkan begitu banyak intrik diantara perjalanan tersebut: dimulai dari tumbuh dan berkembangnya hubungan antara kedua karakter, perbedaan cara pandang hukum antara kedua karakter utama, pergolakan jiwa yang dialami oleh karakter Judge Anderson yang baru pertama kali berada di sebuah lokasi kejahatan dan harus menggunakan senjata, berbagai isu sosial dan politik yang coba diselipkan di dalam jalan cerita film hingga penggambaran mengenai bagaimana masa lalu dari karakter antagonis utama film ini, Ma-Ma.

Tidak hanya memiliki jalan penceritaan yang dipenuhi dengan intrik menarik, Garland juga berhasil mengembangkan deretan karakter yang mengisi jalan cerita Dredd dengan baik. Karakter-karakter tersebut tidak hanya terlihat sebagai deretan karakter yang berusaha untuk menyelamatkan nyawa maupun posisi mereka, namun Garland mampu mengembangkannya menjadi karakter yang memiliki begitu banyak sisi humanis yang menambah warna alur penceritaan Dredd.

Jajaran pengisi departemen akting film ini juga berhasil menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sempurna. Karl Urban – walau menghabiskan seluruh durasi film dengan menyembunyikan wajahnya dibalik helm yang dikenakan oleh karakter Judge Dredd – tidak sama sekali membuat karakternya kekurangan kharisma. Urban mampu menjadikan karakter Judge Dredd tampil kuat serta tegas dalam bersikap. Olivia Thirlby juga mampu menjadikan karakter Judge Anderson sebagai sidekick yang sempurna bagi Judge Dredd.

Berbeda dengan Judge Dredd yang melihat segala sisi hukum dari warna hitam dan putih, Judge Anderson digambarkan sebagai sosok karakter yang mampu melihat sisi abu-abu dalam karakter dan pemikiran seseorang. Thirlby dengan begitu baik mampu menghidupkan karakterisasi tersebut. Sementara itu, Lena Headey mampu menghadirkan karakter Ma-Ma sebagai sosok wanita antagonis yang begitu mematikan. Namun, tidak hanya menjadikan karakter tersebut sebagai sosok karakter penjahat yang hanya peduli soal tahta dan kekuasaannya, Headey mampu menghadirkan sisi humanis dari karakter tersebut pada penonton dan membuat karakter Ma-Ma hadir lebih berisi dan hidup.

Tidak sekedar berisi dari penyajian cerita, karakter maupun penampilan kualitas departemen akting, Pete Travis mampu membungkus Dredd dengan penampilan kualitas tata produksi yang handal. Dari segi visual, Travis mampu menghadirkan imej kekerasan yang begitu kuat melalui tampilan visual film ini. Deretan adegan yang dihadirkan dalam gerakan slow motion juga semakin mempertegas nuansa kekerasan dan kekelaman jalan cerita Dredd. Tata musik elektronik arahan Paul Leonard-Morgan juga menjadi salah satu kualitas unik tersendiri dari Dredd. Iringan musik Leonard-Morgan mampu menambah kualitas kedalaman emosional pada banyak adegan dan membuatnya menjadi lebih menegangkan.

Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan sebuah film aksi yang tidak melulu menyajikan deretan adegan bela diri maupun kekerasan secara berlebihan dalam jalan ceritanya namun juga benar-benar mampu menghadirkan sebuah jalan cerita serta karakterisasi yang kuat bagi penontonnya.  Walau beberapa momen di bagian pertengahan penceritaan Dredd terasa sedikit kehilangan fokusnya, namun secara keseluruhan duet sutradara Pete Travis dan penulis naskah Alex Garland mampu menghadirkan Dredd sebagai sebuah film aksi yang benar-benar jauh dari kesan dangkal namun tetap berhasil memberikan elemen hiburan yang kuat bagi penontonnya.






Download Single Link:

UC: https://userscloud.com/k3jp5lf34np2
UF: http://sht.io/rqs


Subtitle: br-dredd-2012.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Irfan Oxy



Last Knights (2015) WEB-DL + Subtitle Indonesia



Sinopsis:

“The Last Knights” bercerita tentang seorang panglima kesatria pemberani, Raiden (Clive Owen). Lord Bartok (Morgan Freeman), seorang raja yang tidak memiliki anak memilih Raiden sebagai ahli warisnya. Kebahagiaan Raiden tidak berlangsung lama setelah kedatangan seorang utusan kaisar yang jahat, Gezza Mott (Aksel Hennie).

Gezza Mott memaksa Raiden untuk memenggal kepala ayah angkatnya dan mengusir semua anak buahnya dari kastil serta melepaskan seluruh jabatan sekaligus pekerjaan mereka.

Gezza Mott melakukan berbagai cara untuk menghapus segala jejak dari Bartok dan peninggalannya. Sementara, Raiden secara sembunyi-sembunyi telah berkomplot dan menyusun rencana untuk melakukan balas dendam.







Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/d1owrzn9e4pi
TF: http://www.tusfiles.net/7y1kpfvx8l0a
UF: http://sht.io/rdj
SF: http://sht.io/rdi
UP: http://upx.nz/8RslvO


Subtitle: dl-lstknights-2015.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: john al



Into the Storm (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia





Review:

Film seperti ini merupakan sebuah hiburan yang punya potensi besar untuk meninggalkan dilema pada penontonnya, kita tahu ia punya materi yang miskin, usang, bahkan beberapa ada yang terasa bodoh, tapi disisi lain kita juga akan merasa sulit untuk memungkiri bahwa apa yang ia berikan mampu memberikan rasa senang, sekecil apapun kualitas dan kuantitas yang ia miliki. Yap, guilty pleasure. Into The Storm, when disaster and drama destroying each other.

Seorang pria muda bernama Donnie (Max Deacon) membuat sebuah video berisikan pesan yang ingin ia ucapkan kepada dirinya 25 tahun kemudian sebelum acara wisuda di sekolahnya. Video tersebut merupakan permintaan dari sang ayah, Gary Morris (Richard Armitage), yang ternyata dikerjakan oleh Donnie dengan setengah hati karena masalah diantara mereka, menyerahkan tugas tersebut kepada adiknya, Trey (Nathan Kress), dan justru memilih mewujudkan impiannya pada Kaitlyn (Alycia Debnam-Carey), wanita yang selama ini ia kagumi.

Tugas sekolah Kaitlyn menjadi jalan bagi Donnie, tapi ternyata juga membawa masalah bagi mereka. Sebuah badai tornado raksasa sedang dalam perjalanan untuk menghancurkan kota mereka, objek yang celakanya ternyata telah menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kelompok yang berisikan seorang ahli meteorologi bernama Allison Stone (Sarah Wayne Callies) serta para pria yang dipimpin Pete (Matt Walsh), yang sangat yakin dengan mobil bernama Titus yang telah ia rancang dapat mewujudkan impiannya untuk berada di pusat tornado dan meraih keuntungan besar dari video dokumenter yang mereka dapatkan.

Into The Storm adalah film bagi mereka yang datang untuk menyaksikan sebuah petualangan berisikan bencana. Oh, tunggu dulu, mungkin lebih tepatnya “pure disaster”, murni ingin melihat gerakan tornado memporak-porandakan bangunan, mobil ukuran besar, hingga alat transportasi lainnya, dan bergabung bersama dua orang gila (mungkin juga tiga) dalam upaya mewujudkan mimpi mereka. Ya, kasarnya anda mungkin akan merasa sangat senang jika diawal hanya berharap untuk dapat di hibur dengan kehancuran visual, yang harus di akui berhasil memberikan kinerja memuaskan.

Lantas bagaimana dengan mereka yang datang tidak dengan keinginan yang sederhana seperti tadi? Mix, campur aduk, dan itu pula yang saya rasakan ketika harus berusaha keras di bagian awal menyaksikan perputaran masalah yang masih dibangun dengan canggung itu bersama karakter dan bahkan dialog yang seolah tidak punya pesona yang mampu menggoda penontonnya. Kegelisahan itu hanya hadir dari proses menunggu yang kita jalani dalam menunggu hadirnya badai tornado, sedangkan karakter, dialog, bahkan perputaran alur sendiri tidak mampu menciptakan pondasi yang baik, padahal kita sudah tahu pada akhirnya ini akan berujung pada sebuah dramatisasi.

Nah, itu dia minus dari kisah yang ditulis oleh John Swetnam dan dibangun oleh Steven Quale ini, mereka tidak berhasil membentuk sebuah kombinasi yang mumpuni antara drama dan juga jualan utamanya, disaster. Keduanya saling membunuh, tidak menjadi sebuah masalah jika sejak awal drama hanya dijadikan sebagai pemanis belaka, tapi sebaliknya secara konstan dapat terlihat dengan sangat jelas Steven Quale terus berupaya menciptakan momen-momen yang dapat ia gunakan untuk memperdalam sisi drama, memperkuat cerita dan karakter. Dan itu gagal, sisi drama sering di push terlalu kuat, terlalu berlebihan, dan terlalu kaku, hingga akhirnya mengganggu kekacauan visual yang nikmat itu.

Lupa kapan terakhir kali merasa begitu senang dalam menikmati sebuah badai dengan tampilan kokoh bergerak memacu adrenalin (Sharknado, mungkin), yang kemudian tanpa di sadari dapat menarik penonton untuk menjadi pendukungnya dalam melibas karakter-karakter yang mayoritas sudah terasa menjengkelkan sehingga eksistensi mereka tidak lagi menjadi sesuatu yang terasa penting.

Apresiasi layak diberikan pada Steven Quale (visual effects Avatar), ia mampu memanfaatkan CGI dengan baik sehingga hadir semangat dari “kehancuran” yang dibawa oleh tornado pada penonton, seperti rollercoaster kecil karena tubuh yang telah santai dengan hal-hal super standard tadi berubah seketika ketika badai tiba. Yap, kita akan suka bagaimana rasa takut itu dapat hadir bersamaan dengan rasa kagum, sebuah windstorms yang mungkin akan terkesan berlebihan tapi tetap tidak mampu menghalangi kita untuk menilainya sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dan at least dengan eksistensinya Into The Storm punya sesuatu yang menarik dibalik kumpulan hal-hal cheesy yang tidak mampu diolah dengan baik, pergerakan alur yang kusam, hal teknis seperti permainan kamera yang tidak berhasil menambah hal positif bahkan beberapa kali terasa kurang sehat, hingga kualitas akting para aktor yang terkesan seadanya, tidak menunjukkan perkembangan dalam standard minimal, sehingga tidak punya pesona yang melemahkan sisi drama pada cerita.

Overall, Into The Storm adalah film yang cukup memuaskan. Sangat standard memang, dan ia juga punya penyakit dari disaster movie seperti karakter minim pesona dalam script yang kasar, hal-hal klise yang tidak terbangun dengan baik namun terus dipaksakan kehadirannya, serta hiburan visual yang menjadi senjata utama untuk menyenangkan penontonnya. Well, setidaknya dengan keterbatasan yang ia miliki film ini hadir dalam komposisi yang normal sehingga tidak terasa melelahkan, dan petualangan klise itu masih mampu menghadirkan rasa puas bagi penontonnya.




Download Single Link:
UC: https://userscloud.com/5ey34h0ukrr8
UF: http://sht.io/s5s


Subtitle: webdl-intostorm-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki



Kick-Ass (2010) BluRay + Subtitle Indonesia


Review


How come nobody’s ever tried to be a superhero? Begitulah pemikiran yang berada di kepala Dave Lizewski (Aaron Johnson) sebelum ia akhirnya memilih untuk mengenakan sebuah kostum dan merubah dirinya menjadi seorang pahlawan super dengan nama Kick-Ass, walaupun ia sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Seorang penggemar komik sejati, Dave merasa penasaran mengapa dari sekian banyak penggemar kisah-kisah bertema pahlawan super di dunia, tidak ada satupun yang ingin mencoba menjadi salah satu diantara pahlawan super tersebut dan melakukan perbuatan terpuji dengan membantu umat manusia.

Premis tersebut yang coba diterjemahkan oleh sutradara Matthew Vaughn (Stardust, Layer Cake) dari seri komik berjudul Kick-Ass yang ditulis oleh Mark Millar dan John Romita, Jr. Seri komik ini sendiri pertama kali dirilis pada Februari 2008, dan semenjak itu telah mengundang banyak kritikan tajam mengenai banyaknya unsur kekerasan yang dianggap tidak pantas yang dimuat di dalam cerita komik ini.

Untuk versi film sendiri, Matthew Vaughn-lah yang melakukan proses adaptasi naskah cerita dengan bekerjasama dengan Jane Goldman, yang sebelumnya pernah bekerja dengannya di Stardust (2007). Well… karakter utama film ini, Dave, bukanlah Batman, yang walaupun tidak terlahir dengan berbagai kekuatan super, namun Batman memiliki kekayaan untuk melengkapi persenjataannya dalam melawan orang-orang jahat.

Dave hanyalah seorang remaja biasa di sekolahnya yang terobsesi untuk menjadi seorang pahlawan super. Mimpinya menjadi pahlawan super sendiri ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Penjahat yang pertama kali ia temui, dua orang yang mencoba mencuri sebuah mobil, justru berhasil menghajarnya habis-habisan. Walau begitu, Dave tidak segera mempensiunkan alter ego-nya sebagai Kick-Ass. Pada sebuah aksinya, beberapa orang merekam kejadian tersebut yang kemudian berlanjut menjadi sebuah fenomena internet. Kick-Ass segera menjadi bahan perbincangan di penjuru kota.

Hal ini menarik perhatian Big Daddy (Nicolas Cage) dan Hit-Girl (Chloe Grace Moretz), dua orang manusia biasa lainnya yang juga memiliki alter ego sebagai seorang pahlawan super. Berbeda dengan Kick-Ass, Big Daddy dan Hit-Girl telah menjalankan segala kegiatan mereka dengan perencanaan yang matang. Kedua orang ini, yang sering melakukan berbagai aksi kasar yang mematikan ketika sedang melumpuhkan lawan-lawannya, memiliki target utama, seorang pemimpin sindikat penjahat terkenal, Frank D’Amico (Mark Strong), yang memiliki sejarah kelam dengan masa lalu keduanya.

Tentu saja, beberapa orang akan sedikit merasa terganggu dengan karakter Mindy Macready, nama asli Hit-Girl, yang diperankan oleh aktris berusia 13 tahun, Chloe Grace Moretz. Karakter yang ia perankan akan mengingatkan para penonton mengenai bagaimana sadisnya The Bride dari serial Kill Bill menghabiskan lawan-lawannya. Ya, setiap aksi yang diperlihatkan oleh Hit-Girl selalu berbau kekerasan, senjata, darah, kematian dan hal-hal yang sebenarnya akan sangat dijauhkan dari seorang gadis seusianya.

Namun, ada persoalan yang lebih besar daripada kontroversi keberadaan karakter Hit-Girl di film ini. Memang harus diakui, Kick-Ass adalah sebuah tontonan yang sangat menghibur. Dipenuhi dengan energi yang sangat membara, yang dihasilkan oleh ritmenya yang cepat serta berbagai adegan action-nya yang sangat menghibur, Kick-Ass tidak dapat disangkal adalah sebuah pencapaian yang cukup layak diberikan kredit lebih.

Sisi terlemah Kick-Ass justru datang ketika film ini berjalan hanya menjadi sebuah drama, tanpa kehadiran adegan action-nya. Semenjak awal, penonton telah digambarkan mengenai karakter seorang Dave Lizewski sebenarnya. Seorang remaja yang, untuk menyingkat kata, benar-benar tanpa kelebihan apa-apa. A total loser. Karakter Dave sama sekali tidak memiliki kehidupan yang menarik. Ia tidak memiliki konflik dengan orangtua. Ia tidak memiliki sahabat yang istimewa. Kehidupannya juga berjalan secara datar, tanpa ada sesuatu yang menarik dari dirinya.

Sebegitu eratnya imej ini melekat, bahkan ketika karakter Dave telah mengenakan kostum, ia masih digambarkan tidak memiliki apapun yang dapat membuat penonton jatuh hati pada karakternya. Kick-Ass justru terlihat hidup ketika Big Daddy dan Hit-Girl berada di dalam jalan cerita. Dan bukan kebetulan juga bila di dalam jalan cerita, karakter Big Daddy dan Hit-Girl yang kemudian menempa Kick-Ass menjadi sebuah karakter yang lebih hidup.

Dua pertiga jalan cerita film ini juga sebenarnya berjalan biasa. Memang, semenjak awal telah ada beberapa adegan action yang lumayan menarik perhatian. Namun seluruh adegan tersebut bukanlah sebuah adegan yang benar-benar baru. Watchmen mungkin telah terlebih dahulu menyentuh wilayah tersebut. Di sepertiga akhirlah, ketika Kick-Ass bergabung bersama Hit-Girl untuk menjalani misi terakhir mereka, intensitas film ini memuncak. Dipenuhi dengan berbagai adegan kekerasan yang lebih intens, Kick-Ass menjadi benar-benar hidup secara keseluruhan.

Entah apa jadinya jika tidak ada karakter Big Daddy dan Hit-Girl di film ini. Khususnya Hit-Girl, yang kehadirannya selalu membawa angin segar di dalam jalan cerita Kick-Ass. Karakter-karakter lain yang ada di film ini tidak memiliki faktor X yang membuat mereka semenarik Hit-Girl. Aktris Chloe Grace Moretz benar-benar telah memberikan sebuah penampilan yang apik untuk menghidupkan karakter ini dan membuatnya menjadi perhatian utama, bahkan membuat karakter Kick-Ass terlihat sebagai pemeran pendamping.

Para penggemar action, yang mencintai adegan-adegan penuh kekerasan dan berdarah, akan sangat menyukai Kick-Ass. Diarahkan dengan sangat baik, dengan tata teknis yang sangat rapi dan jajaran pemeran yang tampil meyakinkan, Kick-Ass akan menjadi salah satu highlight tersendiri bagi perfilman Hollywood tahun 2010 lalu.









Blitz (2011) BluRay + Subtitle Indonesia





Review:

Seperti yang Anda dan seluruh dunia tahu, sebuah film yang dibintangi Jason Statham adalah sebuah film bergenre action yang tanpa terlalu mempedulikan kehadiran plot cerita dimana Statham akan berperan menjadi seorang pria jantan yang tidak mengenal aturan dan belas kasihan dalam memberikan pelajaran pada mereka yang telah berani mengganggu kehidupannya atau orang-orang yang dikasihinya – bahkan dalam Gnomeo and Juliet ia memerankan karakter tersebut. Bukan sesuatu hal yang buruk, sebenarnya. Statham telah tumbuh dan melekat di benak banyak penonton film dunia menjadi seorang ikon bintang laga yang mampu menghadirkan deretan adegan action yang begitu memukau.

Bahkan Anda akan merindukannya ketika deretan adegan tersebut absen di dalam jalan cerita. Seperti yang akan Anda rasakan ketika menyaksikan Blitz, sebuah film dimana Jason Statham menghabiskan waktunya tidak untuk berkelahi, melainkan berdialog panjang lebar dengan karakter-karakter lainnya. Jadi apa yang mencegah Statham untuk dapat memamerkan keahliannya dalam mempraktekkan koreografi laganya? Ia mendapatkan peran sebagai seorang polisi. Tentu saja Anda tidak akan mendapatkan penggambaran seorang polisi yang taat aturan dan perintah atasan dari seorang Jason Statham.

Dalam Blitz – yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ken Bruen (London Boulevard) — Statham memerankan karakter Sergeant Tom Brant, seorang polisi yang selalu berusaha ‘menegakkan hukum’ dengan caranya tersendiri… yang tentu saja akan melibatkan banyak orang mengalami pendarahan dan luka-luka sekaligus membuat nama sektor kepolisian tempat ia bekerja menjadi bahan kecaman di media massa.

Namun, hal tersebut berubah ketika London dihantui oleh teror seorang maniak yang memburu dan membunuh para anggota kepolisian. Tidak sekedar membunuh para polisi, pembunuh yang menyebut namanya sebagai Blitz (Aidan Gillen) ini juga dengan bangga melaporkan setiap aksinya pada seorang reporter bernama Harold Dunlop (David Morissey) via telepon demi mendapatkan popularitas. Ketika jumlah korban semakin bertambah, Sergeant Brant yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini bersama Liutenant Porter Nash (Paddy Considine) dan segera menangkap sang pembunuh tersebut.

Mereka yang berniat untuk membeli tiket pertunjukan Blitz sembari mengharapkan deretan adegan penuh darah akibat kesadisan karakter yang diperankan oleh Statham dalam melawan setiap musuhnya, tampaknya harus segera mengurungkan niat mereka. Blitz bukanlah sebuah film yang sesederhana itu – walaupun sama sekali tidak menawarkan sebuah jalan cerita yang kompleks juga. Deretan kisah Blitz dihadirkan sebagai rentetan kisah penyelidikan karakter Sergeant Nash dan Liutenant Nash dalam menemukan sang pembunuh.

Terdengar cukup misterius dan menarik untuk diikuti, namun sayangnya sutradara, Elliott Lester (Love is the Drug, 2006), gagal dalam menjaga kerapian aliran cerita film ini secara keseluruhan. Sedari awal, Lester seperti kebingungan untuk meletakkan fokus cerita Blitz. Menghadirkan sebuah adegan penuh kekerasan di awalnya, Blitz kemudian kembali terlihat kasar dalam menggambarkan bagaimana sang pembunuh mengeksekusi para korbannya untuk kemudian berubah lembut.

Lester juga menghadirkan beberapa plot kisah tambahan yang sebenarnya tidak begitu esensial dan akibatnya justru membuat Blitz semakin bertambah membosankan. Baiklah, Blitz juga bukanlah sebuah film yang murni diisi dengan adegan drama. Terlepas dari beberapa adegan kekerasan yang telah disebutkan sebelumnya, alur film ini kemudian meningkat dengan cepat pada durasi 30 menit sebelum film ini berakhir dengan menghadirkan adegan kejar mengejar antara karakter Sergeant Brant dengan karakter sang pembunuh.

Sayangnya adegan yang telah dikemas cukup baik tersebut berakhir dengan sebuah anti-klimaks yang membuat alur cerita kembali mendingin sebelum akhirnya Lester memberikan ending yang kembali akan memacu adrenalin para penontonnya. Karakter sang pembunuh yang dihadirkan sebagai seorang penggilan publisitas juga mendapatkan terlalu banyak ekspos di dalam jalan cerita. Menit dimana wajah sang pembunuh ditampilkan di dalam sebuah adegan, di menit itu pula kesan misterius dan daya tarik film ini semakin berkurang.

Jason Statham adalah Jason Statham di film ini, bergantung dari cara pandang Anda selama ini dalam melihat kemampuan aktingnya. Namun Blitz juga memperoleh penampilan akting yang cukup apik dari para pemeran pendukung film ini: Paddy Considine, David Morrissey dan Aiden Gillen. Pun begitu, perhatian utama dari Blitz memang berada pada karakter yang diperankan oleh Statham. Tidak peduli bahwa Elliott Lester berhasil menghasilkan tampilan gambar yang cukup bagus atau menyediakan tata musik yang berdentum kencang penuh energi, perhatian akan selalu ditujukan pada seorang Jason Statham.

Kembali lagi, cara Anda memandang film ini secara keseluruhan bergantung dari cara pandang Anda selama ini dalam melihat kemampuan akting Statham. Blitz, ladies and gentlemen, adalah sebuah film yang dibintangi oleh Jason Statham. Tentu, selama ini kritikus film dunia telah banyak bersenang-senang dengan memberikan label pada setiap film yang dibintangi Statham sebagai sebuah film popcorn yang tidak begitu berarti kehadirannya.

Walau begitu, semua penonton tahu, setiap film yang dibintangi Statham mampu akan memberikan kesenangan sendiri dengan berbagai kebodohan plotnya dan tampilan action-nya yang menawan. Blitz, ladies and gentlemen, adalah bukan film Statham yang akan mampu menawarkan kesenangan tersebut. Statham masih berperan sebagai seorang karakter jantan yang tidak mempedulikan aturan namun dirinya terjebak untuk mengikuti jalan cerita yang seperti ingin membuatnya terlihat sebagai seorang pria yang bukan sekedar memiliki otot belaka. Karakter film yang sama sekali jauh dari jangkauan Statham yang akhirnya justru membuat Blitz terlihat tidak meyakinkan.







Axe Giant: The Wrath of Paul Bunyan (2013)


Sinopsis:
Young adults at a first-time offenders' boot camp discover the legend of the giant lumberjack Paul Bunyan is real, but is much more horrifying than they could have imagined.








Friday, 10 April 2015

Robot Overlords (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia




Sinopsis:
Film ini mengambil latar pada saat bumi sedang diserang oleh pasukan robot dari galaksi lain, di mana memaksa para manusia untuk tinggal di rumah mereka untuk menyelamatkan diri, atau mereka akan dihancurkan. Di tengah kondisi itu, seorang anak remaja bernama Sean Flynn (Callan McAuliffe) dan teman-temannya justru keluar dari rumah mereka untuk mencari ayah Flynn yang telah lama hilang.

Dalam pencarian, Sean Flynn berhasil menemukan sebuah cara untuk melawan para robot dan dia juga menyadari bahwa ada hal lain di dalam peperangan ini selain keluarganya sendiri.









Subtitle: dl-robover-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: .muhammad93

Wednesday, 8 April 2015

Fast and Furious 6 [Update: BRRip - EXTENDED] + Subtitle Indonesia



Review:
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, jika kamu mengandaikan ini sebagai gigi mobil maka franchise balap-balapan paling kesohor di jagat raya ini sudah mencapai titik laju maksimumnya, tetapi coba tebak? Ia tidak pernah menunjukan tanda-tanda melambat, bahkan seri ke-7 nya pun sudah dikonfirmasi akan dibuat ketika seri ke enamnya ini akan dirilis dengan James Wan (Insidious) duduk di bangku sutradara menggantikan koleganya sesama Asia, Justin Lin yang sudah menggarap 4 seri terakhirnya.

Ya, Fast & Furious adalah franchise action langka yang semakin kuat di setiap seri terbarunya. Seri pertamanya langsung menggebrak dengan menghadirkan dunia balapan underground bersama parade mobil-mobil modifikasinya yang mentereng plus stunt dan cast yang keren meskipun naskahnya sendiri tidak terlalu Istimewa. Lalu seri keduanya terasa ‘pincang’ tanpa kehadiran Vin Diesel yang emoh untuk kembali dan meninggalkan seorang Paul Walker sendiri. Dan franchise ini kemudian berani memaksakan diri dalam seri ke tiganya; Tokyo Drift tanpa menampilkan satu cast pun dari seri pertamanya dan mempercayakan semuanya pada Lucas Black muda dan aksi drift yang berani, bisa ditebak, hasilnya mengecewakan meskipun box office-nya sendiri tergolong masih bagus.

Nah, di seri ke empatnya semuanya menjadi lebih baik, Diesel-Walker kembali termasuk pemain pendukung lama; Michelle Rodriguez dan Jordana Brewster, hingga kemudian diikuti oleh seri ke limanya, yang juga menjadi seri terbaik Fast & Furious. Jadi ada apa di seri terbarunya ini? Bukankah Toretto dan O’conner serta tim terbaiknya yang sudah kaya raya menyatakan pensiun setelah aksi 100 juta Dollar di Rio?

Ya, kenyataannya itu memang benar, tetapi kali ini bukan sekedar masalah uang. Kedatangan Diplomatic Security Service (DSS) Agen Luke Hobbs (Dwyne Johnson) beserta patner barunya, Riley (Gina Carano) di depan pintu rumah Dom dan mengusik ketenangan montir plontos itu dikarenakan Hobbs yang sudah putus asa meminta bantuan Dom bersama krunya untuk menghentikan sepak terjang mantan tentara khusus Inggris, Owen Shaw yang bolak balik sukses melakukan beberapa perampokan besar tanpa bisa tertangkap.

Tentu saja itu bukan urusan Dom tetapi ketika Hobbs memberikan sebuah bukti bahwa Letty (Michelle Rodriguez), bekas pacar Dom yang telah mati ternyata masih hidup dan menjadi bagian dari Shaw maka tentu saja ini menjadi berbeda. “Ini akan berbeda” seru Dom kepada krunya yang ia kumpulkan kembali.

Ya, meskipun pada dasarnya semuanya masih sama; car chase dashyat, adu jotos dan parade mobil keren yang siap memompa adrenalinmu sampai titik tertinggi, tetapi narasi dari penulis setianya Chris Morgan menjadi sedikit berbeda dari seri-seri sebelumnya. Fast & Furious 6 yang juga punya judul lain Fast Six dan Furious Six menjadi lebih personal karena tidak lagi melibatkan uang di ujung kejar-kejarannya yang kali ini sukses memporak porandakan London, terlebih di saat Dom dihadapkan pada ‘hantu’ Letty yang juga menandakan kembalinya Michelle Rodriguez setelah absen di Fast & Furious 5 (2011).

Intinya, Dom diharapkan membantu Hobbs untuk menangkap penjahat Inggris, imbalannya namanya beserta anak buahnya akan dibersihkan dan ia akan mendapatkan Letty kembali. Ya, itu teorinya, tetapi karkater Owen Shaw yang dipernakan bakal calon Erik Draven baru, Luke Evans bukan karkater villain murahan seperti di seri-seri sebelumnya. Owen Shaw itu adalah kriminal cerdas yang setiap gerakanya selalu berada satu langkah di depan Dom dan kawan-kawan. Ada musuh tangguh yang membuat seri ini menjadi lebih menarik selain aksi kebut-kebutan berani tanpa otaknya yang kali ini bahkan sampai melibatkan tank dan pesawat besar dan porsi komedi yang kebanyakan keluar dari mulut lancang Tyrese Gibson untuk mendinginkan suasana.

Di sisi lain Morgan dengan lihai juga berhasil memberikan benang merah untuk menyambungkan ceritanya dengan seri-seri sebelumnya, terlebih benang merah untuk seri kedepannya yang ia sambungkan dengan kejadian di Tokyo Drift pada akhir ceritanya nanti bersama kejutan besar di post credit-nya.Dan bonus buat para penonton Indonesia tentu saja kehadiran Sersan Jaka, Joe Taslim yang melakukan debut internasionalnya sebagai salah satu kru Shaw yang mematikan.

Skalanya mungkin dinaikan menjadi lebih besar dari pendahulunya, tetapi meskipun kali ini melibatkan narasi personal, catfight seru antara Gina Carano dan Michelle Rodriguez, tank besar yang menggilas banyak mobil bak kerupuk atau kejar-kejaran dengan pesawat di landasan terpanjang di dunia, tetap saja secara keseluruhan keasikan level Fast & Furious 6 masih sedikit berada di bawah seri terdahulunya. Ya, sulit untuk menandingi keasikan lepas tanpa beban personal yang sudah dibuat Lin di seri ke limanya, dan momen puncak yang melibatkan brankas besar yang sukses menghancurkan separuh kota Rio itu memang belum ada tandingannya.



Download [BRRip] Single Link
Jenis : AVI
Resolusi: 320 x 176
Ukuran : 210 mb
Durasi : 2 Jam - 11 Menit - 02 Detik
Source : BRRip
 Download via TusFiles.net
Download via Sharebeast
Download via HUGEFiles
Download via UppIT.com

Fast Five AKA Fast & Furious 5: The Rio Heist (2011)


Sinopsis:
Aksi menegangkan selalu ditunjukkan diawal-awal cerita To Fast To Furious. Setelah Bang Vin Diesel (Toretto) dimasukkin penjara Brian and Friend langsung mengintai bus tahanan yang membawa Toretto. Toretto yang masih dendam pada Hernan Reyes karen pembunuhan cewenya mencoba mencari jejak Hernan dengan mencuri mobil selundupan yang berisi chip informasi tentang Hernan. Penculikan mobil itu di cium oleh polisi internasional Luke Hobbs (The Rock) dan mengejar Toretto sampai ke Rio, Brazil.

Agar misi terakhir Toretto selesai yaitu membalas dendam pada Hernan maka ia mengumpulkan anggota sesuai keahlian yang dibutuhkan. Nah pada bagian ini muncul semua pemain yang terlibat dari To Fast To Furious 1-4. Misi pertama dari Toretto cukup simpel yaitu melenyapkan semua uang yang dimiliki Hernan karena uang yang menjadi kekuatan dari si Hernan, tanpa uang Hernan tidak punya anggota atau anak buah dan bisnisnya bisa kacau.

Aksi Toretto dicium oleh Luke dan segera meringkus Toretto dengan teman-temannya saat akan menjalankan misi terakhir. Setelah meringkus dan akan mengirimkan Toretto, adiknya, dan Brian Uring-uringan ini diserang sama anak buah Hernan yang ingin membunuh Toretto dan ternyata yang terbunuh ialah teman-teman dari Luke. Ketika Luke hampir akan diekskusi oleh anggota dari Hernan. Toretto dan Brian membantu penyelesaikan anggota dari Luke. Dan pada misi Terakhir Luke bergabung dalam misi Toretto.

Mampukah Toretto menyelesaika Hernan? Dan kemanakah seluruh uang dari Hernan? akankah Toretto masuk penjara lagi? Siapa yang memimpin balapan kali ini?






Download

Nama File : Fast Five AKA Fast & Furious 5: The Rio Heist (2011)
Jenis : AVI
Ukuran : 160 mb
Durasi : 2 Jam -  10 Menit - 20 Detik
Source : BDRip
Alternatif  :  Link 1Link 2Link 3Link 4,


Subtitle :

Nama File : fast-five-2011.zip
Bahasa : Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki (Subscene.com)